Day V : Nostalgia through MINT Museum of Toys

Pagi itu merupakan hari kelima dan sekaligus adalah hari terakhir kami di Singapura. Masih banyak tempat yang ingin kami jelajahi, tetapi dengan waktu yang terbatas sepertinya kami harus merencanakan trip session yang kedua :) 

Kami sudah siap berkemas, menunggu penerbangan kembali ke Jakarta. Dan sisa beberapa jam di Singapura tersebut kami manfaatkan untuk mengunjungi museum mainan. Tempat yang memang masuk ke dalam itinerary kami sejak awal dan kali ini kami bisa dengan cepat tanpa tersesat mencapai lokasi museum tersebut (setelah beberapa hari sebelumnya tersesat on the way kesana dan ternyata museum sedang ditutup untuk umum).

MINT Museum of Toys, sebuah museum yang terletak di Seah Street. Tak jauh dari stasiun MRT City Hall, hanya cukup berjalan kaki selama beberapa menit melewati mall 'Suntec City' dan Raffles Hotel. Tampak depan, museum ini memang kurang menonjol karena terletak diantara gedung tinggi semacam ruko. Apalagi dengan adanya cafe di depan museum, orang akan cenderung mengira bahwa tempat itu hanya merupakan sebuah tempat hang-out untuk menikmati kopi atau wine.

Tiket masuk MINT Museum of Toys menurutku cukup mahal (kalau di kurs kan ke rupiah saat itu harganya mencapai 105.000 IDR), tetapi dengan koleksi mainan dan dekorasi bangunan yang sangat menarik, it's worth it. Dan untungnya, kami mempunyai voucher 30% Off dari brosur yang kami dapat di Changi airport. Lumayan .... :) 

Oleh sang penjaga museum, kami diarahkan untuk menuju lift dan menikmati koleksi museum dari lantai lima. Museum ini memang hanya terdiri dari lima lantai yang berukuran cukup kecil, dan setiap lantai mempunyai tema yang berbeda. Bagian bawah atau basement terdapat sebuah restaurant dan pada lantai pertama, selain pintu masuk dan meja pembelian tiket, terdapat MINT Shop, dimana kita bisa membeli beragam merchandize dan juga koleksi mainan vintage bagi para kolektor. 

'MINT' merupakan singkatan dari "Moment of Imagination and Nostalgia". Museum ini adalah museum terbesar di Asia yang mempunyai koleksi mainan vintage yang berasal lebih dari 40 negara termasuk diantaranya Jerman, Jepang, UK, USA, dan Cina. Kita bisa menemukan beragam mainan karakter Tin Tin, Betty Boop, Batman, Astroboy, Mickey Mouse, Flash Gordon, The Beatles, Ultraman, Star Wars, dan banyak lagi. Menurut sang guide, hanya di museum inilah kita dapat menemukan mainan langka yang bernilai jual tinggi dan banyak diantaranya merupakan satu-satunya yang ada di dunia. Mainan yang paling mahal saat itu adalah sebuah mainan karakter kuno Mickey Mouse yang berharga USD 35.000 (lebih dari 310 juta rupiah). Wow!!!

Mainan-mainan tersebut di jaga dengan sangat hati-hati. Salah satunya adalah adanya larangan bagi para pengunjung untuk mengambil foto dengan menggunakan flash. Konon, flash dapat merusak warna asli dari mainan-mainan tersebut dan akan mengurangi harga jualnya. So, please mind your camera when you're here.

Tak terasa, lebih dari dua jam kami menjelajahi museum tanpa sedikit pun bosan mengamati koleksi mainan satu persatu. Kami pun harus segera bergegas meninggalkan museum dan mengejar penerbangan kembali ke Jakarta. 

It's been a nice trip and surely we want to have a second trip to Singapore. Hope we can do that soon. Amieeen.

Prev Destination : 'Songs of the Sea' 
Filed under  //   mint   museum   toys  

Day IV : Watching 'Songs of the Sea'

061209. Setelah puas mengelilingi Vivo City, malam terakhir perjalanan kami di Singapura ditutup dengan menonton 'Songs of the Sea' di Sentosa Island. 

'Songs of the Sea' adalah sebuah pertunjukan outdoor di tepi pantai Siloso yang mengkombinasikan atraksi air, api, laser dan drama musikal dalam durasi satu jam. Sedikit mirip dengan dancing fountain di mall Grand Indonesia - Jakarta, namun lebih 'wah' dan full of special computer imaging.

'Songs of the Sea' hanya diadakan dua kali dalam semalam yaitu jam 7:40 dan 8:40. Untung saja seat untuk pertunjukan kedua hari itu masih available. Dengan kapasitas penonton yang terbatas dan banyaknya penonton, sebaiknya memang kita memesan tiket jauh sebelum pertunjukan di mulai. Pemesanan tiket dapat dilakukan secara online atau langsung di counter tiket Sentosa Station, Beach Station atau di Imbiah Lookout. 

To be honest, sebetulnya pertunjukan ini tidak termasuk dalam itinerary kami, tetapi karena promosi @henokhdeni yang sangat gencar dan menggebu-gebu, akhirnya kami memutuskan untuk menontonnya.

It was still 7:30 pm, saat kami berdua memasuki Sentosa Express dari Sentosa Station di Vivo City Level 3. Penumpang Sentosa Express saat itu sangat sepi, hanya kami berdua dan serombongan keluarga dengan beberapa anak kecil yang sangat berisik. Setelah turun di Beach Station, kami segera mencari lokasi pertunjukan yang ternyata sudah penuh dengan antrian para penonton di pintu masuk kanan dan kiri. Tak jauh dari pintu masuk terdapat toko souvenir yang banyak memajang boneka ikan Oscar, salah satu tokoh dari cerita 'Songs of the Sea'.

Sekitar sepuluh menit sebelum jam pertunjukan, pintu masuk akhirnya dibuka. Dengan teratur, semua penonton digiring untuk duduk di sebuah bangku panjang bersusun mirip bioskop. Untunglah saat itu langit cerah sehingga kami tidak perlu menggunakan jas hujan seperti yang sebelumnya dialami oleh @henokhdeni.

Durasi satu jam 'Songs of the Sea' berlalu dengan sangat cepat. Both me n @tamacrea was quite amazed with the attraction. Tak salah kalau 'Songs of the Sea' ini mendapatkan penghargaan Best ASEAN New Tourist Attraction dan Outstanding Achievement for Event Spectacular. Totally nice!

Walaupun recommended, sebetulnya ada satu hal yang membuat aku sedih. It's because lagu tradisional Indonesia : 'Anak Kambing Saya' di perkenalkan sebagai lagu tradisional Malaysia dalam salah satu adegan pembuka 'Songs of the Sea' . Wondering why it happens .... 

Prev Destination : Vivo City | Next Destination : Toy Museum

 

Filed under  //   sentosa island   singapore   songs of the sea  

Day IV : Wandering around 'Vivo City'

Vivo City merupakan sebuah pusat perbelanjaan di kota Singapura yang terletak di Harbour Front. Kami mencapainya dengan mudah menggunakan MRT dari Orchard Road dan turun di stasiun MRT Harbour Front. 
 
Vivo City di sebut-sebut sebagai shopping mall terbesar dan terunik di Singapura. Unik karena mempunyai desain eksterior yang mirip dengan sebuah perahu yang sedang berlabuh di dermaga, sebuah hasil karya seorang arsitek dari Jepang. Senada dengan konsep ekteriornya, interior di dalam mall dipenuhi dengan waves yang memberikan kesan dinamis, sesuai dengan namanya yang berasal dari kata "vivacity" yang artinya "lively/ full of life and energy".
 
Malam itu kami memulai window shopping kami dengan mengelilingi bagian deck samping Vivo City. Tampak pohon natal yang besar menghiasi bagian tengah area dan tak jauh dari pohon natal terdapat sebuah panggung yang saat itu sedang menampilkan atraksi tokoh-tokoh Disney yang menyanyikan lagu-lagu natal. 
 
Kami kemudian menuju 'Food Republic' untuk makan malam. Dengan meja/ bangku yang terbuat dari kayu, dan banyaknya sentuhan etnik di sekitar food court, interior 'Food Republic' mengingatkan aku pada 'Eat & Eat' di Mall Kelapa Gading, Jakarta. 
 
Done with our dinner, kami menuju toko National Geographic di lantai satu. Within seconds, I fell in love with this shop. Di dalam toko ini bukan hanya dijual barang-barang merchandise majalah National Geographic, tetapi juga beragam barang-barang unik dan antik dari berbagai penjuru dunia yang cocok untuk koleksi. Di bagian tengah toko terdapat sebuah kotak merah seperti sebuah kontainer yang dapat mensimulasikan suhu pegunungan. Dengan membayar beberapa dolar, kita akan diberi sebuah jaket tebal layaknya seorang pendaki dan kita bisa 'menikmati' dinginnya pegunungan tanpa susah payah mendaki.
 
Perjalanan kami mengelilingi Vivo City berakhir di 'Candy Empire', di toko ini kami membeli beragam coklat dan permen sebagai oleh-oleh keluarga di rumah. Harga di toko ini memang lebih mahal jika dibandingkan dengan Mustafa Centre, tetapi malam itu sudah cukup larut dan kami harus segera bergegas menuju 'Sentosa Island' untuk menikmati 'Song of the Sea'. 
 
Prev Destination : Botanic Gardens | Next Destination : Songs of the Sea

 

Filed under  //   harbour front   lively   vivo city   waves  

Day IV : Exploring 'Singapore Botanic Gardens'

Jam sudah menunjukkan pukul dua siang ketika kami bergegas menuju Orchard Road setelah sebelumnya puas berbelanja oleh-oleh di Bugis Street. Tujuan kedua hari itu adalah menjelajah 'Singapore Botanic Gardens' bersama beberapa orang teman kami. 
 
'Singapore Botanic Gardens' merupakan sebuah taman di tengah kota Singapura yang mempunyai luas lebih dari 60 hektar. Taman ini dibagi menjadi tiga bagian: Tanglin Core, Central Core, dan Bukit Timah Core, dimana setiap core masih dibagi lagi menjadi taman dengan beragam tema seperti misalnya: Ginger Garden, Rain Forest, Herbs & Spices, etc. 
 
Saat itu MRT menuju Singapore Botanic Gardens masih dalam pembangunan sehingga kami harus menggunakan bus. Gerimis menemani perjalanan menuju halte bus yang berjarak kurang lebih empat blok. Walaupun cukup jauh, trotoar yang rapi dan pemandangan yang segar penuh pepohonan hijau membuat perjalanan tidak terasa capek. 
 
Untung saja gerimis akhirnya berhenti saat memasuki gerbang Singapore Botanic Gardens. Taman ini dibuka gratis setiap hari sejak jam lima pagi sampai jam dua belas malam. Selain merupakan tempat berpiknik, biasanya pada pagi atau sore hari banyak pasangan menggunakan taman ini sebagai tempat pemotretan pre-wedding. Hmm ... aku jadi penasaran apakah untuk melakukan pemotretan disana tetap gratis atau harus membayar seperti di Taman Raya Bogor. 
 
Selama lebih dari tiga jam kami berkeliling dari Tanglin Gate sampai Rain Forest. Melihat angsa di Swan Lake, berbelanja suvenir di dekat Orchid Garden, berfoto-foto di Ginger Garden, menyusuri Rain Forest, sampai akhirnya beristirahat kecapekan di Casa Verde Restaurant
 
Kami hanya menjelajahi kurang dari separuh luas Singapore Botanic Gardens, tetapi itu sudah lebih dari cukup untuk membuat kaki berdenyut-denyut kecapekan karena terlalu banyak berjalan kaki. 
 
That's why, apabila ingin mengunjungi Singapore Botanic Gardens sebaiknya dari awal kita sudah menentukan tempat-tempat yang akan dikunjungi. Singapore Botanic Gardens ini sangatlah luas dan tidak mungkin kita dapat menjelajahi setiap bagian dalam satu hari penuh. 
 
Hampir di setiap pojok terdapat petunjuk arah dan sebuah kotak berisi brosur dan peta, jadi kemungkinan untuk tersesat sangatlah minim.
 
Oh ya, bagi yang takut anjing. Please reconsider to go to this place karena banyak sekali anjing berkeliaran di dalam taman. For me it's no problem, because I like to see cute dogs running everywhere ^^
 
PS : Thanks Benefit for being our photographer :) 
 
Prev Destination : Bugis Street | Next Destination : Vivo City
Filed under  //   Singapore Botanic Gardens   taman  

Day IV : Shop 'til you drop at 'Bugis Street'

Bugis

It was our fouth day in Singapore. 

We started our adventure by having breakfast on McDonald yang terletak di lantai dasar apartemen Lucky Plaza. Kenyang dengan setangkup burger dan segelas teh panas, kami melanjutkan petualangan kami menuju Toy Museum. Setelah sempat tersesat dan bingung mencari alamat yang tepat, kami disambut kabar buruk dari sang penjaga museum. She said : "Sorry we are closed for today due to private event, please have this brochure instead and come visit us tomorrow". Sigh. 
 
Kami pun segera meninggalkan lokasi museum dan mencari warnet terdekat untuk sekedar online dan membaca email. Setelah berdiskusi panjang lebar kami memutuskan untuk menuju Bugis Street
 
Bugis Street adalah sebuah kawasan yang diklaim sebagai the largest shopping area in Singapore. Apabila dibandingkan dengan Jakarta, kawasan ini mirip dengan ITC. Diperkirakan ada sekitar lebih dari 600 pedagang/ kios yang menjual berbagai macam barang mulai dari baju, CD, souvenir, jam tangan, etc. Kami bahkan menemukan beberapa sex shops di antara kios-kios souvenir. 
 
Seperti layaknya di ITC, disini pun kita harus pintar menawar harga untuk mendapatkan harga yang murah. Dan setelah menahan diri untuk tidak kalang kabut membeli ini dan itu, akhirnya kami hanya membeli suvenir sebagai oleh-oleh untuk keluarga dan teman di Indonesia.
 
Kawasan Bugis Street ini buka setiap hari mulai jam 11 pagi sampai jam 10 malam dan kami dapat mencapainya dengan mudah dengan MRT Bugis Station (EW12). 
 
A nice fact : ternyata menurut sejarah, pemakaian nama Bugis pada kawasan 'Bugis Street' ini diambil dari nama suku 'Bugis' dari Sulawesi yang dulunya sering datang, berdagang di Singapura dan kemudian menetap di kawasan tersebut. Wew ternyata ..... 
 
Prev Destination : Clarke Quay | Next Destination : Botanic Gardens
Filed under  //   ITC   bugis   bugis street   shopping  

Day III : Fine Dining at Clarke Quay

That day was the last night of @tamacrea's team in Singapore. Sebagai penutup dari acara outing, mereka semua berkumpul di Clarke Quay tepatnya di Jumbo Restaurant
 
Clarke Quay  merupakan sebuah kawasan pusat makanan dan hiburan yang terletak di Singapore River. Dari stasiun MRT Clarke Quay (NE4), kami berjalan menuju Central Mall dan tak lama kemudian gemerlap lampu-lampu yang berwarna-warni dari seberang sungai mulai tampak. Saat itu cuaca sedang tidak bersahabat, gerimis mulai menggangu perjalanan sehingga kami pun harus cepat bergegas menuju Jumbo Restaurant.
 
Restoran ini terletak tepat disamping Singapore River, apabila cuaca sedang cerah kita bisa menikmati hidangan di ruang terbuka sambil menikmati indahnya Singapore di waktu malam. Too bad we cannot experience that ambience due to the rain. But it was all okay because the dishes were splendid.
 
Hidangan dibuka dengan sup kepiting asparagus sebagai appetizer, dan kemudian disusul dengan beragam hidangan sea food yang semuanya lezat, mulai dari Kepiting Sri Lanka, Kepiting Jumbo saos Black Pepper, Udang Goreng, Cumi Goreng, dan masih banyak lagi. So delicious until I only able to capture some of them because I'm busy with my crab :p
 
Uniknya, sebelum kita menikmati hidangan tersebut, para pelayan akan membagikan sebuah apron (which I still keep until now) so that we will not worry with our clothes while we're enjoying the crab. Nice .....  
 
Prev Destination : China Town | Next Destination : Bugis Street
Filed under  //   clarke quay   jumbo restaurant   singapore river  

Day III : Dinner at China Town

It was around 7 pm and we've already exhausted exploring Science Center and Red Dot Museum. Masih dengan mempergunakan MRT, kami dan @b3n3f1t menuju China Town untuk berwisata kuliner.  
 
Seperti layaknya pecinan, China Town di Singapura adalah sebuah kawasan pusat kebudayaan China yang terletak di bagian selatan kota Singapura. Di sini kita bisa berburu barang-barang khas China seperti cheongsam, obat herbal, kain sutra, emas, kerajinan tradisional, dsb. 
 
Selain itu juga terdapat banyak pedagang kaki lima yang menjual barang-barang souvenir dengan harga yang bisa ditawar. Disinilah kami membeli beberapa gantungan kunci dan magnet kulkas sebagai oleh-oleh untuk keluarga dan teman-teman. 
 
Menurut informasi dari beberapa teman, kita dapat menemukan beragam makanan dengan harga yang cukup murah di bagian Food Court China Town. Well, at least for non moslem, because it's quite hard for me to find halal food. Pork is everywhere. Aku pun berjalan berkeliling sampai akhirnya aku melihat sebuah stand dengan logo halal. Stand tersebut menjual masakan padang dengan sistem paket (rice + vegetable + meat/ chicken). Dan yang menarik, ternyata penjualnya berasal dari Semarang (woot). Dalam bahasa Indonesia yang sudah tidak terlalu lancar, kami pun mengobrol dan ibu penjual tersebut bercerita bahwa dia telah tinggal dan bekerja di Singapura selama lebih dari 14 tahun dan sudah lama tidak pulang ke Indonesia. Wew ...
 
Food court China Town saat itu sangat ramai sehingga cukup susah bagi kami menemukan tempat duduk yang comfy. Baru saja kami duduk dan menikmati makan malam, seorang bapak tua berjalan ke arah kami dan menawarkan tissue. Tak tega melihatnya, aku pun membeli sepaket tissue (berisi 3) dengan harga 1 SGD. Menurut @tamacrea, kita jarang menemukan pengemis di Singapura tetapi dengan mudah kita menemukan manula dan orang-orang cacat yang menjual barang-barang dengan harga mahal. 
 
Tidak banyak yang dapat kami lakukan malam itu karena hujan tiba-tiba turun dengan deras. Padahal sebelumnya aku juga berencara mengeksplore 'People's Park' - sebuah gedung pusat perbelanjaan yang katanya menawarkan barang dengan harga yang sangat murah. 
 
Sambil menunggu hujan reda, @tamacrea dan @b3n3f1t membeli ice cream di trotoar mall OG seharga 1 USG. Sepertinya jajanan ini telah menjadi jajanan favorit @tamacrea, untung saja penjual ice cream seperti ini banyak tersedia hampir di setiap pojokan jalan di Singapura :p
 
Hujan akhirnya mulai reda setelah kami menunggu lebih dari setengah jam. And we really should be hurry karena teman-teman @tamacrea sudah menunggu kami di Clarke Quay.
 
Prev Destination : Red Dot Museum | Next Destination : Clarke Quay
Filed under  //   china town   food court   singapore   singapura  

Day III : Exclusive Exhibition in Red Dot Design Museum

Still in our third day of Singapore trip, venue kedua yang kami kunjungi adalah sebuah museum desain di Maxwell Road, Red Dot Traffic Building.
 
Dari Science Center Singapore, kami kembali menuju ke stasiun MRT dan mengambil jalur hijau (East West Line) dan berhenti di stasiun Tanjong Pagar.
 
Gedung Red Dot mempunyai warna merah terang, dengan warna gedung yang menyala seperti ini, tampaknya kecil kemungkinan orang yang melintas tidak mengenalinya. Sebelum digunakan sebagai museum, gedung ini dulunya merupakan gedung pemerintahan milik kepolisian lalu-lintas Singapura. 
 
Di dalam museum dipamerkan beragam produk pemenang “red dot design award” - sebuah kontes internasional bergengsi untuk produk-produk berkualitas dengan desain menarik yang dibagi menjadi tiga kriteria: 'Product Design", "Communication Design" dan "Design Concept.” 
 
Beberapa perusahaan yang telah berhasil memenangkan award ini diantaranya adalah Adidas, Apple, LG Group, Mercedes-Benz, Nokia, Philips, Sennheiser, Sony, Tupperware, etc.
 
Selain sebagai tempat pameran karya pemenang red-dot design award, museum ini sering dipergunakan sebagai venue beragam acara-acara kreatif. Seperti pada saat kita datang, terdapat pameran dan bazaar yang menjual aneka barang-barang unik. Karena acara bazaar inilah, akhirnya kita bisa masuk dengan gratis (tanpa event, harga tanda masuk: SGD 8). Dan yang paling menyenangkan adalah banyaknya pilihan bar, cafe, dan restaurant di bagian depan dan samping gedung. 
 
Such a nice venue ^^
 
Prev Destination : Science Centre | Next Destination : China Town
Filed under  //   desain   maxwell road   museum   red dot  

Day III : Learning Things in Science Centre

 
Third day on our Singapore trip. It was Saturday and it's already 10 am. Setelah menghabiskan sarapan, kami bergegas turun dan bertemu dengan team @tamacrea di depan McDonald Orchard Road. Aku pikir kami berdua sudah terlambat, tetapi ternyata masih banyak teman-teman @tamacrea yang belum muncul dan masih bersiap-siap. Inilah resiko berjalan-jalan dengan banyak orang, harus sabar untuk saling menunggu dan harus bertoleransi dengan jam karet :)
 
Tempat pertama yang akan kami jelajahi hari itu adalah "Science Center Singapore" (SCS). Not quite interested at first because I thought it must be boring. 
 
Sesuai dengan namanya, SCS merupakan wahana belajar ilmu pengetahuan alam dan tehnologi yang sangat cocok bagi anak-anak. Tempat ini terletak di Science Centre Road, tidak jauh dari stasiun MRT Jurong East. 
 
Saat memasuki gedung, kami disambut dengan replika Tyrannasaurus Rex setinggi 5 meter. Ekor dan kepala T-Rex dapat bergerak dan secara berkala T-Rex elektronik ini dapat mengeluarkan suara raungan. 
 
Di samping kanan T-Rex terdapat sebuah restoran McDonald yang selalu tampak penuh dengan anak-anak kecil yang saling bersliweran.
 
SCS mempunyai kurang lebih 850 wahana yang terbagi menjadi 14 tema yang berbeda. Menurut website resminya, apabila kita menghabiskan waktu selama 5 menit untuk setiap wahana, dibutuhkan 7 hari untuk mencoba semua wahana yang ada. Karena itulah dianjurkan untuk memilih wahana mana yang ingin kita eksplor agar kita dapat menikmati dan mempelajarinya dengan maksimal.
 
Setelah mengambil peta SCS yang tersedia di bagian depan loket tiket dan berdiskusi dengan @tamacrea, akhirnya kami memutuskan untuk mengunjungi: i-Space (all about Infocom Technology), Nano Technology (learn about molecular things), Eco Garden, dan Sound Exhibition
 
Hampir seharian kami mengelilingi SCS dan akhirnya aku sadar bahwa aku sudah salah menilai. This place is totally not boring, in fact it's awesome. Seandainya di sekolah dahulu bisa memberikan pelajaran dengan cara semenarik ini, mungkin aku tidak akan 'takut' dengan mata pelajaran IPA dan semacamnya :p 
 
If I've got another chance to go to Singapore, I will definitely going here again to see the other 10 exhibitions. 
 
Prev Destination : Merlion Park | Next Destination : Red-Dot Museum
Filed under  //   jurong east   science center   singapore  

Day II : Enjoying Night at Merlion Park

Merlion-park

 

Konon, kalau belum melihat dan berfoto di depan patung Merlion berarti kita belum ke Singapura. 

Merlion adalah patung berkepala singa-berbadan ikan yang telah menjadi icon Singapura sejak tahun 1960-an. Kata "Merlion" berasal dari "Mer" (refer to sea) dan "Lion". Kabarnya Merlion juga merupakan lambang kerendahan hati penduduk asli Singapura yang bermatapencaharian sebagai nelayan. Badan pariwisata Singapura sendiri telah meresmikan lima buah patung Merlion, dua diantaranya terletak di Merlion Park - sebuah taman tidak jauh dari Esplanade/ Marina Bay dan sisanya terdapat di Pulau Sentosa, Gunung Faber, dan Tourism Court.

Malam itu, sambil menikmati indahnya suasana malam kota Singapura, kami berjalan menyusuri Singapore River menuju ke Merlion Park yang terletak bersebelahan dengan hotel One Fullerton. Merlion Park ini mempunyai luas kurang lebih 2.500 meter persegi, dilengkapi dengan beragam restoran/lounge dan sebuah dek yang memberikan view sempurna untuk berfoto. 

Tantangan pertama saat itu adalah berfoto dengan baterai kamera DSLR milik @b3n3f1t yang sudah sekarat dan tanpa tripod. Kamera digitalku memang masih berfungsi tapi kemampuan menangkap gambarnya sudah sangat tidak representatif di malam hari. Untung saja kamera @b3n3f1t masih sempat mengabadikan aku n @tamacrea berpose di samping 'Cub' - patung kecil Merlion atau biasa disebut sebagai anak Merlion.

Sedangkan tantangan kedua adalah menemukan timing yang tepat untuk mengambil foto yang 'bersih'. Dek Merlion Park saat itu sangat ramai, hampir setiap pojokan penuh dengan pasangan yang asyik bermesraan dan berciuman. Surely we don't want them as part of our picture background, isnt it? :p 

Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 11 malam dan kamipun harus cepat menuju ke stasuin MRT untuk kembali ke Orchard Road (MRT hanya beroperasi sampai jam 12). Our second day in Singapore was great but still we can't wait for the third day!

Prev Destination : Esplanade | Next Destination : Science Center